Selasa, 14 Oktober 2014

Mos Terakhir

Rabu , 17 Juli 2013 , tepatnya kemarin, adalah hari terakhirku melihat keelokan calon wajah2 baru yg sekarang telah sah menjadi adik kelasku di SMAN ini. Mereka berhias dengan bakul nasi berwarna-warni diatas kepala mereka sebagai pengganti topi, kardus berlapis karton berukuran 20x30 cm yg mereka letakkan di dada dan punggung dengan raphia yg menjelaskan nama, hoby dan asal mereka, rangkaian terong2 kecil besar yg menggantung di leher seperti kalung, dan anyaman rumbai2 kacang panjang yg telah layu, pendamping sabuk hitam di pinggang mereka. Serta bawaan yg biasa ada pada kegiatan sperti ini, yaitu sapu lidi dan tas anyaman berwarna kuning2 pandan tua. Warna2 atribut yg mereka pakai beragam, tergantung kelas yg mereka ikuti. Yg q tau dalam pembagian kelas ini para panitia tidak di bagi oleh ketuanya. Melainkan terserah saja asal menyesuaikn jumlahnya. Dengan keinginan q , aq memilih bertugas d group nusa.
Di kelas dgn ciri atribut serba kuning ini membuat q merasa bruntung. Dikelas ini aku menemukan seseorang yg dalam fikiranku seperti pernah aku melihatnya, tetapi entah dmana dan kapan. Aku baru menyadari keberadaan nx di kelas nusa ini di hari terakhir mos, stelah q lihat papan kardusnya. Membuat q menggumam dalam hati "mengapa k0q bru tau skrg ...". Sebelum aku menemukan nama Monika di papan nama yg ia pakai ada beberapa kakak2 dari IPB yg memberikan motivasi kepada kami , jujur aku menyukai mereka. Kebetulan di akhir pertemuan mereka sempat menawarkan untuk mampir kerumahnya , dan menyebutkn satu nama yg tdk q kenal, yaitu Monika.
Di hari itu aku berusaha mendekati dan ngobrol dgn penyandang nama itu. Pertama, ktika sluruh calon siswa di kumpulkan di dalam aula, kusuruh teman q hengki menyebut nma ny dan menyuruhnya maju ke depan kakak kelas, bersama 4 temannya. Awal kata dari q , stelah pertanyaan dari Hengki, q tnya ia dgn nada agk halus sambil menguji, " mengapa kamu memilih sekolah d sni ?". Ia menjawab dgn agk menunduk " soalnya saya di rumah di suruh sama mama jagain adik kak... Jadi ga boleh jauh ...". Kemudian ku tanya lagi dengan nada agk berubah "kamu beneran mau sekolah di sini ?", mimik muka dan matanya mulai berubah agk memerah dan nafasnya agk menghela " iya , kak...". Melihat rautnya, ku usaikan pertanyaanku dan kusuruh smua duduk kembali.
Setelah itu, di bandingkan teman2nya aq lebih sring melihatnya , entah dia menyadarinya atau enggak. Beberapa waktu kemudian aq berjalan ke tempat duduk para calon2 siswa baru yg berkumpul di ruang aula itu, seolah-olah melihat keadaan barang2 bawaan mereka. Padahal yg q tuju adalah seorang yg menarik perhatian q itu. Setelah basa-basi kpda bberapa calon siswa2 lain, yg terlihat ada hal yg dapat q jdikan alasan komentar, akhirnya aq smpai di tempat duduknya yg brada di barisan ke-4 paling kanan nomor 2. Aq berdiri di samping temannya seolah-olah mengoreksi. Di situ aq bingung mau ngomong apa untuk basa-basi. Akhirnya tanpa banyak kata, "de' boleh tanya ngga ?" mengarahkan pandangan ke cwe itu. "apa?" sahutnya. "rumah kamu dmna ?" lanjut q, "tau rumahnya *&%@^# ngga'? " sambungnya lagi. Suasana ruangan agk ribut, karena kurang jelas entah siapa, langsung saja ku jawab "ngga tau.." ketika dia mau ngomong lagi , tiba2 temannya (klo ngg' salah nmanya) Risma menyela, "tau rumahnya kepala desa ngg' ?", "ngga tau,,hehehe" jwb q, "dia tu anknya pak lurah.." menjelaskan kpadaku, "masa? Iya kh ?" memastikan. "iya" jawabnya dgn pasti. Kemudian Monika melanjutkan, "kalo rumah bu Tanti tau ngga'?", "iya , tau ..." jwaban q, krna aq memang sering melewati dpan rumah itu. "na, itu dari rumah bu Tanti terus aja, nanti skitar jarak 3 rumah ada rumah , itu rumahku." jelasnya, "rumah yg ada pagarnya" sahut temannya,,, "rumah yg ada pintunya" Salim ikut2... "iya.." lanjut Monika. Dalam fikiran ku klo dari sini ke rumah bu Tanti, terus jarak 3 rumah, kayanx ga ada rumah yg pke pagar deh, n itu brrti depan rumah Dina Aulia donk tmen SMP q . Jadi q tanya lagi "kalo sama rumah Dina Aulia ?", "Dina Aulia itu sepupuku, jauh dari situ." jawabnya. Aku makin bngung, jadi ku minta saja ia menggambar skemanya, "ada buku ngga? gambarin aja, bingung aq". Kemudian ia menggambarkan skema rumah dan jalannya. Stelah itu ia perlihatkan padaku. Dalam benakku berkata "owh, dari arah sudan kh, Kirain dari sini." tanpa ku ucapkan.
Setelah aq paham, ku lanjutkan," tadi kata kak Fihim rumah kamu dket sama kontrakannya ya ?", "iya, dket sama rumahku". "Jdi, rumah kak Fihim dmna ?". Kemudian ia mengambil buku tadi dan melanjutkan menggambar sebuah demi sebuah kotak yg seolah2 itu adalah rumah dan satu buah garis yg katanya itu adalah jalan. "ini kan rumahku," menunjuk ke kotak yg terakhir ia gambar tadi, "ini jalan, terus disini ada rumah, disebelahnya ada toko. na, di sini rumah kakaknya." sambil ia memperpanjang garis di buku itu dan menambahkan 3 buah kotak. Dengan bgitu aq paham, dan kotak terakhir itulah tujuanku,..
Jadi , terpenuhilah keinginan q utk tahu rumah kak Fihim.
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar