Minggu pagi, 7 Juli 2013
Hari itu aku sangat bahagia karena aku akn pergi liburan ke Bandung
yg pertama kalinya. Semua yg perlu ku bawa termasuk kamera dan handycam
telah ku persiapkan di dalam tas ransel pemberian mamaku. Entah mengapa
muka dan warna kulitku terlihat bersih dan berbinar pada saat itu. Aku
memakai jaket biru warna laut , celana levis hitam2 agk buram dan juga
topi hitam.
Menunggu mobil yg menjemputku datang, aku mengecek kembali bawaanku.
Terlihat tak ada yg ktinggalan, akupun membuka lagi hp kesayanganku dan
seperti biasa, jika ada momen penting maka ku tuliskan di jejaring
sosial facebook. Tapi belum selesai aku mengupdate status, mobil yg
ditunggu2 telah datang. Kemudian aku menaikkan dlu semua barang2 bawaan
ku ke dalam mobil, baru setelah semuanya telah di dalam mobil , mobil
itu pun pergi meninggalkanku sendiri. Tanpa ku duga tiba2 hujan
mengguyurku dan setelah itu ada suara seseorang yg tidak asing berkata
padaku "woyy, udah siang bro , jgn tidur terus ... bangun, bangun ...".
Ternyata hujan itu adalah usaha ahim membangunkanku dan suara yg
menggugahku itu juga berasal darinya.
Expresi,,,
By : Ali/Roni
Seiring dengan perkembangan zaman, maka diperlukan keterampilan untuk menghadapi zaman tersebut. Dulu pada abad 19, manusia mempersiapkan untuk menghadapi zaman kita ini, yaitu zaman yang juga disebut sebagai era globalisai dimana pada zaman ini terjadi peledakan informasi yang tidak dapat terbendung. Lantas bagaimana persiapan kita dalam mengahadapi Abad 21 yang akan datang ? Keterampilan apa yang akan kita wariskan kepada penerus bangsa ini di era itu ?
Rabu, 21 Agustus 2013
Renungan
Pada suatu hari, seorang tukang
roti di sebuah desa kecil membeli
satu kilogram tepung pada seorang petani. Ia curiga bahwa
tepung yang dibelinya tidak benar-benar seberat satu
kilogram. Beberapa kali ia menimbang tepung itu. Dan
benar saja, berat tepung tersebut tidak penuh satu kilogram.
Sekarang ia yakin, bahwa petani itu telah melakukan kecurangan.
Ia melaporkan pada hakim, dan petani itu disidang di pengadilan.
Pada saat sidang, hakim berkata pada petani,
"Wahai petani, tentu kau mempunyai timbangan, bukan?"
"Tidak, tuan hakim," jawab petani.
"Lalu, bagaimana kau bisa menimbang tepung yang kau jual
itu?" tanya hakim.
Petani itu menjawab, "Ah, itu mudah sekali, tuan hakim. Untuk
menimbang tepung seberat satu kilogram tersebut, sebagai
penyeimbangnya aku gunakan saja roti seberat satu kilogram
yang aku beli dari tukang roti itu.".
satu kilogram tepung pada seorang petani. Ia curiga bahwa
tepung yang dibelinya tidak benar-benar seberat satu
kilogram. Beberapa kali ia menimbang tepung itu. Dan
benar saja, berat tepung tersebut tidak penuh satu kilogram.
Sekarang ia yakin, bahwa petani itu telah melakukan kecurangan.
Ia melaporkan pada hakim, dan petani itu disidang di pengadilan.
Pada saat sidang, hakim berkata pada petani,
"Wahai petani, tentu kau mempunyai timbangan, bukan?"
"Tidak, tuan hakim," jawab petani.
"Lalu, bagaimana kau bisa menimbang tepung yang kau jual
itu?" tanya hakim.
Petani itu menjawab, "Ah, itu mudah sekali, tuan hakim. Untuk
menimbang tepung seberat satu kilogram tersebut, sebagai
penyeimbangnya aku gunakan saja roti seberat satu kilogram
yang aku beli dari tukang roti itu.".
Langganan:
Komentar (Atom)